Kamis, 07 Maret 2013

Opini: Misteri 500 Buah Peluru Tajam Bulungan, Teroris atau Politik?


(Temuan 500 buah pucuk peluru yang digagalkan masuk Ke Bulungan, Publik perlu kejelasan)

Walaupun suasana Tanjung Selor adem anyem, jelas saja saya dibuat tergelak dengan kabar berita yang tak sedap sedang senter dibicarakan oleh sebagian orang saat ini, apa lagi jika bukan mengenai “ditemukannya” paket berisi tak kurang dari 500 buah butir peluru tajam ilegal yang rencananya diselundupkan dari Jakarta ke Tanjung Selor dalam beberapa buah paket yang disamarkan sebagai spare part melalui sebuah perusaahaan kargo.

Saya salut dengan kepolisian yang bergerak cepat mengamankan barang bukti, pun demikian juga dengan media massa yang berperan dalam memberitakan temuan penting ini, tentu saja bagi sebagian orang berita kriminal seperti ini biasa saja, toh sudah ada yang menanganinya, namun sesederhana itu kah? …

Terorisme atau Politik?

Tentu saja banyak hal yang begitu menggelitik saya ketika membaca berita tersebut melalui situs-situs online yang terpercaya tersebut, yang paling utama dipertanyakan adalah apa motif si pengirim menyelundupkan barang berbahaya itu ke Tanjung Selor?

Jika kepolisian begitu khawatir peluru-peluru itu jatuh ke tangan teroris, saya pun khawatir, namun jangan lupa pula tak lama lagi beberapa tahun kedepan Bulungan akan menjadi Ibu kota Kaltara, otomatis akan ada pemilihan Gubernur dan Bupati baru di daerah itu, apakah pandangan saya cukup jauh?, saya bukan orang yang suka dengan “Teori Konspirasi” namun kekhawatiran saya cukup beralasan.

Jelas sekali pengirim misterius itu tak begitu punya itikad baik, jika ia memiliki izin tentunya tak repot-repot memalsukan identitas barang, apalagi sipengirim tak dapat dihubungi lagi ponselnya, wajar saja timbul pertanyaan dikemudian hari, jika yang dikirim adalah 500 buah peluru laras panjang, maka berapa banyak jumlah pucuk Senjata Api yang disiapkan oleh orang atau kelompok tertentu yang menunggu kedatangan barang tersebut, mudah-mudahan saja kekhawatiran saya tak terjadi.

Namun seandainya boleh menghitung, jika satu “kamar peluru” mampu menampung setidaknya 20 butir, dan per orang memegang “kamar peluru” sebanyak dua buah, artinya tak kurang 20 hingga 25 senapan semi otomatis yang akan menjajal peluru kaliber 5,3 mm tersebut. Jumlah tersebut jelas cukup membuat “kegaduhan politik” yang tak diinginkan.

Berkacalah kejadian di Filipina beberapa tahun yang lalu dimana salah satu kadindat melalui kaki tangannya “memberondong” rombongan calon lawan politik dipemilihan tersebut. Ini adalah sebuah pelajaran berharga yang tak bisa dianggap remeh.

Satu butir peluru yang diletupkan oleh penembak misterius bisa menimbulkan “keriuhan” sesama masyarakat sipil, menimbulkan fitnah diantara penegak hukum dan angkatan bersenjata kita yang bertugas dikota kecil yang cinta damai ini.

Masyarakat Bulungan cinta damai, kami tak memerlukan para “Warlord-warlord” yang akan menganggu sendi kehidupan dan kedamaian tanah bertuah ini, jika benar itu berhubungan dengan politik, alangkah tak senonohnya mereka yang menggunakan “peluru tajam” itu guna memuluskan jalan ditampuk kekuasaan. Naudzubillahimindzalik ….

Lain dari itu, pun jika dikatakan peluru tersebut digunakan untuk berburu, menjaga tambak dan sarang burung, bisakah para pemilik memberikan jaminan bahwa tiap butir peluru berburu itu tak disalahgunakan untuk memburu manusia? Sejauh mana legalitas perizinan yang dimilikinya? dan Sejauh mana sipemilik lulus tes fisik dan kejiwaan? Itu juga menjadi pekerjaan rumah yang tak mudah bagi para penegak hukum kita.

Polisi saja sebagai pihak berwenang, menggunakan peluru tumpul untuk menjaga instalasi vital, dan TNI ditegaskan untuk disiplin untuk mempertanggung jawabkan tiap peluru yang digunakan baik dalam latihan dan bertugas, dihitung dan didata dengan cermat agar tak disalah gunakan. 

Jangankan memiliki peluru tajam 5,3 mm -berserta senjata entah itu semi atomatis berasal dari rakitan atau tidak-, memiliki senapan angin dengan kaliber 5,56 mm saja sudah “diharamkan” oleh penegak hukum, apalagi peluru tajam untuk senapan laras panjang itu. 

Saya berharap Kepolisian Republik Indonesia, baik di Jakarta maupun di Tanjung Selor bergerak cepat meminimalisir kekhawatiran yang berkembang, harus ada keberanian mengungkap modus operandi dan motif si pelaku, jika ia kurir siapa dalangnya, itu harus dikejar hingga tuntas walaupun seandainya mungkin akan menyentuh orang-orang tertentu dalam lingkaran kekuasaan di Kabupaten Bulungan. Kinerja Polisi kami tunggu. (Zee) 

Sumber acuan: 

http://www.merdeka.com/jakarta/pemilik-gerai-tiki-kaget-ada-paket-berisi-500-peluru.html

http://www.gatra.com/hukum/25151-polisi-buru-pemilik-paket-500-butir-peluru.html

http://www.beritasatu.com/megapolitan/99341-masih-misterius-pengirim-500-peluru-lewat-tiki.html

http://www.suarapembaruan.com/metropolitan/polisi-gagalkan-pengiriman-paket-500-butir-peluru/31444

http://www.beritasatu.com/hukum-kriminalitas/99046-polisi-temukan-paket-tiki-berisi-ratusan-peluru-tajam.html

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/02/26/mity24-500-butir-peluru-berkaliber-53-mm-ditemukan-dalam-paket-tiki

http://www.merdeka.com/jakarta/500-peluru-di-pulogadung-untuk-senpi-laras-panjang.html

Minggu, 03 Maret 2013

Opini : Politik dan Generasi Muda Islam di Bulungan


(Pemimpin yang jujur, adil, bijaksana dan bertanggung jawab, selalu menjadi dambaan rakyat)

Politik bagi sebagian orang terkadang berkonotasi tak selalu baik, itulah yang melekat setidakanya pada benak tak sedikit orang, pun demikian dengan masyarakat Bulungan, Politik terkadang menjadi satu hal yang hanya dianggap membuang waktu dan tabu. 

Memang aggapan itu tak selalu salah, apalagi jika melihat kondisi dilapangan banyak sekali kejadian-kejadian yang tampak didepan mata, mulai dari korupsi berjamaah, nepotisme, premanisme, narkotika dan tindakan kriminal yang dilakukan oleh anggota dewan terhormat serta pejabat pemerintah mempertegas lagi ketidak sukaan masyarakat pada yang namanya politik. Tentu memang tak semua orang melakukan itu, ada juga yang jujur, bersih hatinya, berkomitmen dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya.

Memahami politik itu penting.

Saya ingat sewaktu menempuh pendidikan baik di Balikpapan maupun di Banjarmasin, hiruk pikuk politik menjelang pemilihan umum begitu kental terasa dan kami yang muda-muda mencoba memahami peran kami dalam dalam arus pesta demokrasi yang semarak itu. 

Adalah fakta bahwa banyak generasi muda adalah golongan yang justru tak terlalu tertarik dengan politik, mereka memiliki dunianya sendiri, kadang ada beberapa dari mereka yang lebih paham persoalan internal sebuah club sepak bola dari pada mengamati kehidupan politik di daerah mereka, bahkan tak sedikit yang tak mau tahu sama sekali perkembangan politik di daerahnya, kondisi ini sudah kerap terjadi, sebab pendidikan poltik oleh sebagian orang bukanlah pilihan. 

Maka ketika pesta pemilihan umum berlangsung ada sebagian yang justru menilai bahwa musim pemilu sama seperti musim pesta “musim buah” saja, jika ada uang mereka mau mencoblos salah satu kadindat tanpa melihat dan mentelaah apakah orang tersebut pantas menjadi wakilnya di parlemen, atau tak peduli apakah orang itu pantas menjadi pemimpin pemerintahan didaerahnya. Karena itu saya memahami suara anak muda sejujurnya rentan di politisir oleh golongan dan kelompok tertentu.

Lalu bagaimana dengan anak-anak muda, khususnya generasi mudanya di Bulungan? Kondisi ini sejujurnya memang tak jauh beda, walaupun ada sebagaian dari mereka yang memang punya kepekaan terhadap konstelasi perkembangan politik di bulungan dan teroganisir dalam sebuah organisasi, namun juga tak bisa ditampik jumlah generasi muda yang melek politik ini tak sebanyak diluar lingkungan tersebut.

Islam pada dasarnya sudah memiliki rambu-rambu dan pedoman dalam pemilihan seorang pemimpin, ia harus seagama (Islam) -bukan hanya sekedar pemeluk agama saja-, jujur, adil, bijaksana, cerdas, bertanggung jawab dan tak berat sebelah. Hal inilah yang harus dipahami oleh generasi muda muslim Bulungan dimanapun mereka berada. Kepemimpinan adalah hal yang penting didalam Islam dan tiap muslim wajib memilih pemimpin berasal dari mereka. Tentu saja kita tak berbicara tentang wakil, kita bicara tentang pemimpin, kawan.

Kembali kepada generasi muda muslim Bulungan, memahami politik bukanlah hal yang tabu, bahkan akan menjadi penting artinya saat itu akan menentukan masa depan muslim di Bulungan, bangun dari keterpurukan dan tidur panjang yang membuat kita terlalu pulas, gunakan tenaga dan pikiran untuk membangun bangsa dan negara dengan suri tauladan dan menjadi berkah untuk banyak orang. (zee)          

Senin, 18 Februari 2013

Sudut Kota: Menikmati Keindahan Kembang Api di Malam Imlek 2013.



(Kembang Api saat perayaan Imlek Tanjung Selor 2013)
Menikmati keindahan kembang api dalam suatu perayaan menjadi kenikmatan tersendiri untuk menghibur hati.dikota kecil kami seperti Tanjung Selor Ini, perayaan kembang api dalam skala besar biasanya hanya terjadi pada tiga perayaan besar saja yakni malam menjelang Idul Fitri, malam pergantian Tahun dan perayaan Imlek, yang terakhir ini terbilang baru dilaksanakan beberapa tahun yang lalu.

Semangat imlek yang dibawa pada tahun ular air ini sejatinya sama pada perayaan-perayaan imlek tahun lalu, selalu di suguhkan dengan kemeriahan kembang api. Dulu perayaan Imlek biasanya hanya dirayakan secara sederhana oleh komunitas tionghoa di Bulungan, semenjak Presiden Abdurrahman Wahid menjadikan imlek sebagai perayaan dalam almanak tanggal merah di Indonesia, imlek yang dulunya tertutup menjadi lebih terbuka dan ceria.

Di Tanjung Selor hal tersebut juga disambut oleh komunitas tionghoa yang juga ternyata mendapat tempat dimasyarakat. Bahkan para pelaut yang kebetulan mampir di dermaga kota kecil ini menyatakan imlek yang dilaksanakan di tanjung selor selalu meriah bila dibanding di Surabaya, menurut mereka “orang Tanjung” lebih terbuka punya toleransi yang tinggi antar pemeluk beragamapun demikian dengan komunitas Tionghoa.

Masyarakat Tionghoa yang lama tertutup mulai membuka diri dan menjadikan perayaan imlek menjadi bagian dari perayaan yang tak hanya dinikmati dikalangan mereka, mereka mulai membuka diri dengan mengadakan pawai tahunan, pesta kembang api yang melibatkan masyarakat serta menyajikan tarian barongsai dan liong dipersembahkan kepada masyarakat tanjung selor sebagai wujud persatuan dan pembauran dimasyarakat dan masyarakat Tanjung Selorpun sudah lama menerima mereka dengan tangan terbuka bahkan sejak beberapa abad yang lalu.

Pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh inilah, masyarakat tionghoa menumpahkan perasaan syukur dan pengharapan mereka agar senantiasa hidup berdampingan dengan rasa damai dan cinta dan terhindar dari kejadian-kejadian buruk dimasa mendatang. 

Kembali ke perayaan kembang api, suasana malam itu tanggal 16 Februari 2013, memang cukup padat lampion dipasang memagari kota, namun keseluruhan acara dipusatkan dikawasan pecinan lama, ini bisa dilihat dari banyaknya lampion berwarna merah keemasan yang dipajang sepanjang jalan dari samping kantor Perusda lama hingga ke toko batu yang melewati kelenteng Tae Pek Kong. Suasana meriah sehingga jalan terpaksa ditutup dikawasan dekat pinggir sungai kayan itu. Selain kawasan pinggir sungai kayan itu merupakan kawasan pecinan lama, juga menjadi kebiasaan bahwa kembang api yang diletupkan dalam skala besar harus ditembakkan dari sungai kayan, biasanya dibawa diatas kapal. Suasana meriah tak hanya menghiasi kota Tanjung Selor, kembang api juga menciptakan kesan indah malam itu dirasakan di Tanjung Palas, kota lawas dimasa Kesultanan Bulungan yang berhadapan dengan Tanjung Selor.

Saya dan seorang sahabat yang membawa serta beberapa keponakannya turut menikmati sajian keindahan letupan kembang api dari atas dermaga, agak luas daya pandang yang saya dapat untuk menikmati kembang api di tahun ular air ini, bagi saya menikmati kembang api seperti cukup menghibur diri, untuk sebuah kota pelabuhan kecil seperti tanjung selor ini, menikmati suguhan kembang api memang menyenangkan. (zee)    

Gambar-gambar suasana kembang Api Imlek 2013

 

Selasa, 12 Februari 2013

Sudut kota: menikmati keindahan Tanjung Selor dari Bukit Kota.


(Salah satu dudut kota yang terlihat dari kejauhan)

Jika tak terlalu sibuk, salah satu kesenangan saya jika sore adalah hiking sambil menyusuri kawasan dari bandara, memutar keatas bukit dekat kolam buaya lama hingga turun menuju lapangan agatis, saya senang dengan pemandangan yang menarik hati yang saya dapat tiap melakukan perjalanan, selalu saja mata dimanjakan dengan pemandangan indah walau menyusuri rute yang sama.

Salah satu pos pemberhentian saya adalah puncak bukit yang berdekatan dengan Pura Jagat Benuanta, pura yang dibangun diatas bukit tersebut memang terbilang baru dalam beberapa tahun ini karena memang ini adalah satu-satunya tempat peribadatan umat Hindu di Tanjung Selor. Pemandangan dari atas kala sore merayap menjadi pemandangan yang spektakuler bagi saya. 

Kota Tanjung selor yang mungil terlihat cukup jauh dari ketinggian bukit ini, lanskap kota terlihat menawan jika diperhatikan dari sudut yang berbeda dari biasa saya saksikan. Menikmati matahari sore diatas pebukitan, memang menjadi salah satu kesenangan tersediri yang bagi saya. (Zee)